kebidanan

kebidanan
bayi dalam kandungan

Jumat, 05 April 2013

Etikolegal dalam Praktik Kebidanan



BAB I
PENDAHULUAN

I.    Latar Belakang
            Seiring dengan kemajuan jaman, serta kemudahan dalam aksese informasi, era globalisasi membuat akses informasi tanpa batas, serta peningkatan ilmu penegetahuan dan teknologi membuat masyarakat semakin kritis, disisi lain menyebabkan timbulnya berbagai permasalahan etik. Selain itu perubahan gaya hidup, budaya dan tata nilai masyarakat membuat masyarakat semakin peka menyikapi berbagai persoalan, termasuk member penilaian terhadap pelayanan yang diberikan oleh bidan.
            Ketika masyarakat merasakan ketidakpuasan terhadap pelayanan, atau apabila seorang bidan merugikan pasien tidak menutup kemungkinan di meja hijaukan. Bahkan didukung semakin tinggi peran media, baik media masa maupun elektronik dalam menyoroti berbagai masalah yang timbul dalam pelayanan kebidanan, merupakan hal yang perlu diperhatikan dan perlu didukung pemahaman bidan mengenai kode etik profesi bidan dan hukum kesehatan, dasar kewenangan dan aspek hukum legal dalam pelayanan kebidanan. 
            Untuk itu dibutuhkan suatu pedoman yang komperehensif dan interegratif tentang sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh seorang bidan. Kode etik profesi bidan merupakan suatu disiplin ilmu yang memberikan tuntunan bagi anggota dalam melaksanakan pengabdian profesi. Kode etik profesi bidan juga merupakan suatu pedoman dalam tata cara dan keselarasan dalam pelaksanaan pelayanan professional bidan.

II.                Tinjauan Teori

Akuntabilitas dalam praktik kebidanan merupakan suatu hal yang penting dan dituntut dari suatu profesi terutama profesi yang berhubungan dengan keselamatan jiwa manusia, adalah pertanggungjawaban dan tanggung gugat (Accountability) atas semua tindakan yang dilakukannya. Sehingga semua tindakan yang dilakukan oleh bidan harus berbasis kompetensi dan didasari oleh suatu evidence based. Accountability diperkuat dengan satu landasan hukum yang mengatur batas-batas wewenang profesi yang bersangkutan.
            Dengan adanya legitimasi kewenangan bidan yang lebih luas, bidan memiliki hak otonomi dan mandiri untuk bertindak secara professional yang dilandasi kemampuan berfikir logis dan sistematis, serta bertindak sesuai standar profesi dan etika profesi. Bidan wajib memberikan informasi yang rinci dan jujur atas resiko, manfaat, atau alternative lain yang ada. Apabila ada pertentangan maka pertimbangan keamanan bagi ibu, janin, dan si penolong harus menjadi prioritas, dan diadakan negosiasi secara terbuka.

Perilaku Etis
Salah satu perilaku etis adalah bila bidan menampilkan perilaku pengambilan keputusan yang etis dalam membantu memecahkan masalah klien. (Heni Puji W., 2008)
            Etika Pelayanan
Pelayanan kebidanan tergantung bagaimana struktur social budaya masyarakat, dan termasuk kondisi social ekonomi, social demografi. Bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan menggunakan metodologi manajemen kebidanan. Semua langkah manajemen kebidanan didokumentasikan sebagai aspek legal dan informasi dalam asuhan kebidanan. Bidan bertanggung jawab dalam dokumentasi kebidanan.
Dimana dokumentasi kebidanan akan berpenagaruh terhadap dimensi kepuasan pasien. Dimensi kepuasan pasien meliputi dua hal :
1.      Kepuasan mengacu penerapan kode etik dan standart pelayanan profesi. Kepuasan ini mencakup penilaian :
a.       Hubungan bidan cengan pasien yang baik memungkinkan bidan memberikan penjelasan semua informasi yang diperluakn pasien.
b.      Kenyamanan pelayanan.
c.       Kebebasan melakukan pilihan.
d.      Pengetahuan dan kompetensi bidan (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap).
e.       Efektivitas pelayanan.
2.      Kepuasan yang mengacu pada penerapan semua persyaratan pelayanan kebidanan. Pelayanan yang bermutu artinya semua persyaratan pelayanan kebidanan dapat memuaskan pasien.

ISU ETIK
Etik merupakan bagian dari filosofi yang berhubungan erat dengan nilai manusia dalam menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah dan apakah penyelesaiannya baik atau buruk (jones,1994).
Kini masyarakat smakin kritis sehingga terjadi penguatan tuntutan terhadap mutu pelayanan kebidanan. Mutu pelayanan kebidanan yang baik perlu landasaan komitmen yang kuat dengan basis etik dan moral yang baik. Dalam praktik kebidanan sering kali bidan dihadapkan beberapa permasalahan yang dilematis, artinya pengambilan yang sulit berkaitan dengan etik. Bidan dituntut berperilaku hati-hati dalam setiap tindakannya dalam memberikan asuhan kebidanan dengan menampilkan perilaku yang etis professional.
Pengambilan Keputusan dalam Pelayanan Kebidanan
            Menurut George R.Terry, pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. Terdapat lima hal pokok dalam pengambilan keputusan, yaitu:
1.      Institusi, berdasarkan perasaan, lebih subjektif dan mudah terpengaruh.
2.      Pengalaman, mewarnai pengetahuan praktis, seringnya terpapar suatu kasus meningkatkan kemampuan mengambil keputusan terhadap suatu kasus.
3.      Fakta, keputusan lebih riil, valid dan baik
4.      Wewenang, lebih bersifat rutinitas
5.      Rasional, keputusan bersifat objektif, transparan, konsisten.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan:
1.      Posisi atau kedudukan.
2.      Masalah: terstuktur, tidak terstuktur, rutin, insidentil.
3.      Situasi : faktor konstan, faktor tidak konstan
4.      Kondisi, fakto-faktor yang menentukan daya gerak
5.      Tujuan, antara atau objektif
Kerangka pengambilan keputusan dalam asuhan kebidanan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1.      Bidan harus mempunyai responsibility dan accountability
2.      Bidan harus menghargai wanita sebagai individu dan melayani dengan rasa hormat.
3.      Pusat perhatian pelayanan bidan adalah safety and wellbeing mother
4.      Bidan berusaha menyokong pemahaman ibu tentang kesejahteraan dan menyatkan pilihannya pada pengalaman situasi yang aman.
5.      Sumber proses pengambilan keputusan dalam kebidanan adalah : knowledge,  ajaran intrinsik, kemampuan berfikir kritis, kemampuan membuat keputusan klinis yang logis.
Pengambilan Keputusan yang Etis
1.      Cirri keputusan yang etis, meliputi :
a.       Mempunyai pertimbangan benar salah.
b.      Sering menyangkut pilihan yang sukar.
c.       Tidak mungkin dielakkan.
d.      Dipengaruhi oleh norma, situasi, iman, lingkungan sosial.
Hak dan Kewajiban Pasien dan Bidan
1.      Hak Pasien
Hak pasien adalah hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai pasien :
a.       Pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan.
b.      Pasien berhak atas pelayanan yang manusiawi adil dan makmur.
c.       Pasien berhak memperoleh pelayanan kebidanan sesuai dengan profesi bidan tanpa diskriminasi.
d.      Pasien berhak memperoleh asuhan kebidanan sesuai dengan profesi bidan tanpa diskriminasi.
e.       Pasien berhak memilih bidan yang akan menolongnya sesuai dengan keinginannya.
f.       Pasien berhak mendapat pendampingan suami selama proses persalinan berlansung.
g.      Pasien berhak mendapatkan informasi yang meliputi kehamilan, persalinan, nifas, dan bayinya yang baru dilahirkan.
h.      Pasien berhak memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit.
i.        Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat kritis dan mendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar.
j.        Pasien berhak menerima konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar dirumah sakit tersebut terhadap penyakit yang dideritanya, sepengetahuan dokter yang merawat.
k.      Pasien berhak meminta atas “privacy” dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya.
l.        Pasien berhak mendapat informasi yang meliputi :
1.      Penyakit yang diderita.
2.      Tindakan kebidanan yang akan dilakukan.
3.      Alternative terapi lainnya.
4.      Prognosanya.
5.      Perkiraan biaya pengobatan
m.    Pasien berhak menyetujui / memberikan ijin atas tindakan yang akan dilakukan oleh dokter sehubungan dengan penyakit yang dideritannya.
n.      Pasien berhak menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendiri sesudah memperoleh informasi yang jelas tentang penyakit.
o.      Pasien berhak didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.
p.      Pasien berhak menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien yang lainnya.
q.      Pasien berhak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di rumah sakit.
r.        Pasien berhak menerima atau menolak bimbingan moril maupun spiritual.
s.        Pasien berhak mendapatkan perlindungan hokum atas terjadinya kasus malpraktek.
t.        Hak untuk menentukan diri sendiri, merupakan dasr dari seluruh hak pasien.
u.      Pasien berhak melihat rekam medic.
2.      Kewajiban pasien
a.       Pasien dan keluarganya berkwajiban untuk mentaati segala peraturan dan tata tertib rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan.
b.      Pasien berkwajiban untuk mematuhi segala instruksi dokter, bidan, perawat yang merawatnya.
c.       Pasien atau penanggungnya berkwajiban untuk melunasi semua imbalan atau jasa pelayanan rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan, dokter, bidan dan perawat.
d.      Pasien dan atau penanggungnya berkwajiban memenuhi hal-hal yang selalu disepakati atau perjanjian yang telah dibuatnya.

3.      Hak bidan
a.       Bidan berhak mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
b.      Bidan berhak untuk bekerja sesuai dengan standar profesi pada setiap tingkat pelayanan kesehatan.
c.       Bidan berhak menolak keinginan pasien/klien dan keluarga yang bertentangan dengan peraturan perundangan, dan  kode etik profesi.
d.      Bidan berhak tas privasi dan menuntut apabila nama baiknya dicemarkan baik oleh pasien, keluarga maupun profesi lain.
e.       Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik melalui pendidikan maupun pelatihan.
f.       Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan jenjang karir dan jabatan yang sesuai.
g.      Bidan berhak mendapatkan kompensasi dan kesejahteraan yang sesuai.

4.      Kewajiban  Bidan
a.       Bidan wajib mematuhi peraturan rumah sakit sesuai denagn hubungan hokum antara bidan tersebut dengan rumah sakit bersalin dan sarana pelayanan dimana ia bekerja.
b.      Bidan wajib memberikan pelayanan asuahn kebiadanan sesuai dengan standar profesi denagn menghormati hak-hak pasien.
c.       Bidan wajib merujuk pasien dengan penyulit kepada dokter yang mempunyai kemampuan dan keahlian sesuai dengan kebutuhan pasien.
d.      Bidan wajib memberikan kesempatan kepada pasien untuk didampingi oleh suami atau keluarga.
e.       Bidan wajib memberikan kesempatan kepada pasien untuk menjalankan ibadah sesuai denagn keyakinannya.
f.       Biadn wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien.
g.      Bidan wajib memberikan informasi yang akurat tentang tindakan yang akan dilakukan serta resiko yang mungkin dapat timbul.
h.      Bidan wajib meminta persetujuan tertulis atas tindakan yang akan dilakuakan.
i.        Bidan wajib mendokumntasikan asuhan kebidanan yang akan diberikan.
j.        Biadan wajib mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menambah ilmu pengetahuannnya melaui pendidikan formal atau non formal.
k.      Bidan wajib bekerja sama dengan profesi lain dan pihak yang terkait secara timbal balik dalam memberikan asuhan kebidanan.

III.             ANALISA KASUS
Ortu akan Polisikan RS yang Vonis Bayi Upik Meninggal

Jakarta - Ali Zuar (33) dan Mayarni (27) tidak menyangka bayi mereka yang sudah divonis mati oleh bidan sebuah rumah sakit tiba-tiba masih bernafas. Keduanya akan melaporkan hal ini kepada polisi.
Kisah itu bermula saat Mayarni melahirkan anak keduanya, Upik, pada Rabu (20/2/2013) kemarin sekitar pukul 14.25 WIB. Pihak RS menyatakan bayi perempuan itu langsung meninggal karena partus immaturus alias kelahiran prematur.
"Ketika lahir diperiksa sama bidan dan dinyatakan bahwa Upik meninggal dalam kondisi lahir prematur," ujar Ramdan Alamsyah, kuasa hukum Ali Zuar, kepada wartawan di kediaman Ali di Gang Damai, Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jaksel, Kamis (21/2/2013).
Setelah vonis itu, jenazah Upik dibawa ke rumahnya. Jenazah sudah dibungkus kain kafan. Di atas jenazah sudah diletakkan surat kematian bayi.
Namun, setelah sampai ke rumah dan diperiksa oleh keluarga, bayi Upik masih hidup walaupun bernafas terengah-engah. Keluarga dan warga sekitar kaget. Upik lalu diberi oksigen dari tabung kecil, milik seorang warga yang memiliki usaha pijat refleksi.
Warga juga sempat memberikan bayi Upik penghangat dari alat terapi. Kondisi bayi Upik yang tadinya membiru menjadi memerah kembali.
"Pak RT menyarankan bayi Upik dibawa ke RS untuk mendapatkan pertolongan kembali. Namun karena hujan baru dikirim pukul 20.00 WIB kemarin oleh tetangga," kata Ramdan.
Sesampainya di RS, dilakukan upaya maksimal pada bayi Upik. Setelah itu, pihak RS memberikan surat rujukan RS tempat bayi Upik dirawat.
Jika ingin dibantu RS tersebut terkait rujukan RS, maka pihak keluarga harus membayar uang muka Rp 15 juta.
Akhirnya pihak keluarga datang lagi membawa uang tersebut. Malang, bayi Upik menghembuskan nafas terakhir pada Rabu (20/2/2013) pukul 23.15 WIB.
"Kita menganggap ini bagian malpraktik RS, ketika bayi masih hidup malah dinyatakan meninggal. Di situ ada 2 surat kematian, pertama dijelaskan lahir Rabu (20/2/2013) pukul 14.25 WIB lalu dinyatakan meninggal. Kemudian dibuat surat lahir lagi Rabu (20/2/2013) pukul 23.00 WIB dan dinyatakan meninggal pukul 23.15 WIB," beber Ramdan.
Bayi Upik lalu dimakamkan di kuburan Islam di musala Darul Muttaqin, Petukangan Selatan, siang tadi usai salat zuhur.
Ali Zuar, ayah bayi Upik, berprofesi sebagai tukang jahit konveksi. Sedangkan istrinya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Bayi Upik merupakan anak kedua. Anak pertama pasangan itu meninggal dunia, juga karena lahir prematur.
"Akan dilaporkan ke Polres Jakarta Selatan besok," tutur Ramdan.

(nik/nrl)
Diposting oleh Pandu Triyuda – detikNews
Pada Kamis, 21/02/2013 15:53 WIB

IV.             PEMBAHASAN



1 komentar: